Jumat, 12 Maret 2010


Setrika Untuk Sahabat         
by Lalu for everyone


            Ketika dia berulang tahun nanti, aku ingin memberikannya sebuah setrika. Kenapa? Sebab selama ini aku ngeliat pakaiannya yang dikenakannya nggak pernah rapi. Mesti kusut. Kentara sekali lipatan-lipatan gak teratur di pakaiannya. Duh, aku jadi iba.

            Sebenarnya, pengen sekali dua kali aku menegurnya. Menanyakan kenapa bajunya nggak pernah disetrika. Namun, aku langsung bisa ngambil kesimpulan, meski tanpa bertanya terlebih dahulu. Ini temanku pasti nggak punya setrika. Tapi, mungkinkah? Secara, dia kan anak orang kaya. Setidaknya dia pasti punya pembantu yang bertugas untuk menyetrikakan bajunya. 

            Namanya Tanpa Koma. Ya, namanya Tanpa Koma. Nama yang lucu sekaligus aneh waktu pertama kali ia memperkenalkan diri. Seisi kelas langsung tertawa. Takjub. Heran. Kok, ada ya orang bernama begitu?

            “ Namamu Tanpa Koma?” Aku bertanya lagi begitu ia kembali ke bangkunya. Kebetulan dia duduk di sebelahku.

            “ Iya!”

            “ Namamu aneh ya? Aku baru denger loh? Kok bisa orang tuamu ngasih nama begitu?” tanyaku lagi. Sok akrab. Padahal diam-diam, aku juga pengen punya nama yang aneh dan unik. Tapi, sayang orang tuaku begitu katroknya. Dia hanya memberiku nama yang pasaran banget. Slamet. Sebab, aku lahir dengan selamat. Cuman itu penjelasan singkat dari orang tuaku waktu kutanya tentang namaku.

            “ Mmm... Tanpa Koma. Sempat sih aku nanya ortuku arti namaku. Mereka bilang, Tanpa Koma itu berarti tanpa hambatan. Kamu tau sendiri kan kalau tanda koma dalam bacaan, sering jadi pemenggal – penghambat menuju kalimat berikutnya. Nah, papaku ingin agar aku dalam hidup ini, tanpa hambatan. Selalu sukses. Begitu...”

            Aku ber-ooo panjang.

            “ Wah, asyik juga ya punya nama unik kayak Kamu!” pujiku dengan setengah hati. Jujur, aku juga ingin memiliki nama yang unik seperti itu. Namun yang pasti, harus ada maknanya. Sebab nama tanpa makna sama saja dengan manusia tanpa perasaan. Garing!

            Sejak perkenalan itu, dia malah jadi sahabatku. Koma, aku memanggilnya demikian, memang anak yang baik. Selalu ramah pada setiap orang. Meskipun anak berada, ia tidak membeda-bedakan teman. Baginya, selama orang itu menerima Koma apa adanya, ia juga akan menerima orang tersebut apa adanya. Inilah kelebihan Koma yang patut aku contoh.

            Di antara sekian kebaikan, keramahan, dan ketulusan hatinya, ada satu hal yang mungkin luput dari perhatian Koma sendiri. Apa itu? Baju-baju yang dipakainya. Kenapa? Selalu kusut. Belakangan ini entah kenapa aku mulai memperhatikan hal itu. Menyadari hal itu. Baju-baju Koma selalu kusut.

            Ketika ia maju presentasi, misalnya, selain memperhatikan materi presentasinya, aku pun tak lepas dari kusutnya baju-bajunya. Hem yang kentara sekali lipatan-lipatannya.

            Pun ketika ia baru keluar dari mobilnya, meski mematut diri di kaca mobil, namun aku seperti menyayangkan suatu hal. Koma kok sepertinya tidak merapikan bajunya ya? Apa tidak sempat disetrika? Atau baju itu dipakai pula untuk tidur? Tau sendiri kan kondisi baju berbahan kain setelah dipakai tidur? Pasti kusut semrawut!

            Kalau hanya sekali dua kali seperti itu, aku mungkin tidak mempermasalahkan sampai menulisnya dalam bentuk cerita gini. Tapi, aku ngeliat ada sesuatu yang tidak beres dari diri Koma. Penampilan fisik sih oke, apalagi untuk ukuran cewek-cewek. Otak juga lumayan. Tapi, dandanan??? Bajunya selalu kusut. Tidak hanya hem, kemeja, tapi juga kaos.

            Ada apa?

            Tapi, aku memang bukan periset. Buat apa coba, aku meneliti kehidupan orang lain sampai sedetil-detilnya, meskipun ia temanku, sahabatku sendiri?

            Ah, ya! Bulan depan dia bakal berulang tahun, kenapa tidak aku gunakan saja momen ini? Yihaaaa...sebuah bohlam raksasa menyala di kepalaku.

            AKU AKAN MENGHADIAHKAN KOMA SETRIKA!!!

            Huuuuppp!!! Tapi, karena uangku belum cukup untuk membeli setrika, aku akan menabung dulu. Menabung selama sebulan ini. Menyisakan uang sakuku sekitar lima ribu rupiah per harinya.

            Ah, menabung memang banyak manfaatnya!!! Salah satunya, bisa beli setrika untuk Koma! Aku merasa jadi orang paling berjasa...

 Surabaya, 26 April 2008

Adakah yang mau menyumbangkan setrika untukku? Biar aku gag perlu menabung lama. Biar setrikanya bisa aku bungkus dengan kado secepatnya dan tak perlu menunggu momen ulang tahun segala. Adakah? Oooooh... adakah???

Simpang Ajal

Cerpen Satmoko Budi Santoso

SELESAI sudah tugas Montenero. Karenanya, kini ia tinggal bunuh diri. Bunuh diri! Itu saja. Betapa tidak! Ia telah membunuh tiga orang itu sekaligus. Ya, tiga orang. Santa, orang yang dengan serta-merta memenggal kepala bapaknya ketika bapaknya menolak menandatangani selembar kertas yang berisi surat perjanjian untuk terikat dengan sebuah partai. Lantas Denta, yang ketika pembunuhan itu terjadi berusaha membungkam mulut bapaknya agar tidak berteriak, serta Martineau yang mengikatkan tali pada tubuh bapaknya agar bapaknya tak bergerak sedikit pun menjelang kematiannya. Karena itu, sekarang, Montenero sendiri tinggal bunuh diri!

"Selamat malam, Montenero. Sebaiknya kamu kubur dulu ketiga mayat itu baik-baik! Setelah itu, terserah!" ucap batin Montenero, meronta.

"Ya, kubur dulu! Lantas, selamat tinggal!" sisi kedirian batin Montenero yang lain menimpali.

Sesungguhnya Montenero memang tidak perlu menjumput beragam kebijaksanaan untuk sesegera mungkin mengubur mayat-mayat itu. Toh memang, tugas pembantaiannya telah usai. Dan dengan sendirinya, dendam yang bersemayam di dalam dirinya lunas terbalaskan.

"Tetapi, semestinya engkau mempunyai cukup rasa kemanusiaan untuk tidak membiarkan mayat-mayat itu menggeletak begitu saja karena kau bunuh! Kasihan tubuh mereka menggeletak! Semestinya jika dengan cepat mereka menjadi makanan belatung-belatung menggiriskan di dalam tanah. Bukan menjadi makanan empuk bagi lalat-lalat hijau!" Belati, yang telah menikam dada Santa, Denta, dan Martineau masing-masing sebanyak enam kali, yang sepertinya sangat tahu berontak batin Montenero, ikut angkat bicara.

Montenero menghela napas. Menggeliat.
"Ah, benar. Sudah semestinya. Sekarang, engkau harus bisa membebaskan pikiranmu dari angan-angan tentang balas dendam. Ingat, ketiga mayat itu telah menjadi seonggok daging yang tak berarti. Harus dikubur! Engkau harus mengubah pola pikir yang begitu konyol itu, Montenero," cecar sebilah Pedang, yang rencananya ia gunakan juga untuk membunuh, tetapi Santa, Denta, dan Martineau ternyata cukup memilih mati cuma dengan sebilah Belati.

"Oh ya. Ya. Aku ingat lagi sekarang. Engkau harus mempersiapkan banyak keberanian agar kau menjadi tidak gagu dalam bersikap. Jangan seperti ketika kau akan membunuh! Kau hunjamkan diriku ke dada ketiga mayat itu dengan gemetar. Sekarang, untuk menguburkan ketiga mayat itu, tak perlu ada denyut ragu yang berujung gemetaran badan, desah napas memburu, suara terengah-engah, dan keringat dingin yang keluar berleleran. Semua itu harus diubah. Dengan segera!"

Montenero melirik jam tangan. Kurang tiga puluhan menit kokok ayam bakalan meletup kejut. Ia menghapus keringat dingin yang perlahan-lahan tapi pasti mulai membanjiri muka dan tangannya.

"Cepat lakukan! Keberanian telah datang dengan sendirinya. Lakukan!"
Angin pagi mendesir. Jam tangan terus berdetak. Montenero pucat. Lunglai. Apa yang dikatakan oleh Belati dan Pedang itu ada benarnya. Tak ada kebijaksanaan lain menjelang pagi hari itu kecuali penguburan. Tentu saja, penguburan dengan segala kelayakannya. Ada dupa, bunga, kain pembungkus mayat, dan pastilah keberanian. Untuk yang terakhir, soal keberanian itu memang sudah sedikit dimiliki Montenero. Tetapi, untuk dupa, bunga, dan juga sesobek kain pembungkus mayat? Atau, pikiran tentang sesobek kain pembungkus mayat sungguh tak diperlukan lagi?

"Ah, begitu banyak pertimbangan kau! Ambillah cangkul! Gali tanah yang cukup untuk mengubur ketiga mayat itu sekaligus. Cepat! Tunggu apa lagi, ha?! Ayo, berikan kelayakan kematian kepada Santa, Denta, dan Martineau. Setidaknya, agar ruh mereka bisa sedikit tertawa di alam baka sana. Cepat Montenero! Waktu tinggal sebentar! Masih ada tugas-tugas lain yang harus kau panggul untuk mencipta sejarah. Sejarah, Montenero! Jangan main-main! Cepat! Ayo, dong. Cepat!!!"

Montenero diam. Terpaku. Ia sebenarnya memang tidak perlu mempertimbangkan apa-apa lagi kecuali segera mengubur ketiga mayat itu serapi mungkin, agar paginya tidak sia-sia karena dikorek-korek anjing. Lantas, selesai! Sejarah baru tergores. Bapaknya yang mati sangat mengenaskan dengan kepala terpenggal dari tubuhnya, terbalas sudah. Meskipun kematian Santa, Denta, dan Martineau tidak sempurna seperti kematian bapaknya, tetapi setidaknya mati. Itu saja. Karena hanya sisa keberanian itulah yang dimilikinya. Kebetulan memang juga mati, bukan? Tuntaslah cerita ibunya yang selalu membekas dalam ingatan dan membuatnya selalu berpikir dan bersikap semirip orang sableng.

Montenero memutuskan mengambil cangkul. Belati dan Pedang tertawa. Membuat Montenero kembali gundah, berada dalam sangkar kebingungan. Keringat berleleran lagi dari sekujur tubuhnya. Tangannya kembali gemetar. Dengan berteriak sekeras mungkin, Montenero membanting cangkul yang sudah tergenggam kencang di tangannya. Berarti keberaniannya sedikit hilang, bukan? Bahkan barangkali hilang sama sekali? Belati dan Pedang kebingungan. Keduanya pucat pasi. Motivasi apa yang mesti disuntikkan untuk membangkitkan kesadaran keberanian Montenero menjelang matahari terbit?

"Aku tak mampu lagi melakukan apa-apa. Aku telah menuntaskan tugasku. Aku telah mencipta…. Uh…. Semestinya kau tak menghimpitku dengan hal-hal kecil yang justru akan menjebakku pada rasa bersalah semacam ini!" dengan suara penuh gemetar, seolah dicekam oleh ketakutan entah apa, Montenero angkat bicara.

"O…. Kau menganggapnya hal kecil, Montenero? Harusnya aku tadi menolak untuk kau gunakan membunuh jika kau menganggap penguburan adalah sebagai hal yang kecil, remeh. O…. aku bisa saja mogok untuk membunuh bila akhirnya kau malah bimbang sikap semacam ini! Kau tahu, Montenero. Aku bisa balik mengubah keberanianmu untuk membunuh. Aku bisa tiba-tiba saja menikam dadamu sendiri di depan Santa, Denta, dan Martineau. Bangsat! Anjing, kau!!!"

Montenero terpaku. Suasana di sekitar tempat pembantaian itu merayap senyap. Montenero berulang-kali blingsatan. Montenero terus-menerus mengusap keringat yang berleleran membasahi sekujur wajah. Dan detik terus saja berdetak. Sesekali ia garuk-garuk kepala sembari berjalan mondar-mandir. Belati dan Pedang cuma memandangi saja. Bisa jadi, Belati dan Pedang memang sudah kehabisan kata-kata untuk memotivasi Montenero. Sesekali dilihatnya mayat Santa yang terbujur kaku, Denta yang terkapar melingkar bagai ular, dan Martineau yang jika diperhatikan secara jeli ternyata malah tersenyum di puncak kenyerian kematiannya.

"Bagaimana, Montenero? Bagaimana? Aku masih sanggup membikin keberanian buatmu. Belum terlambat, dan tak akan pernah terlambat. Aku masih bersabar bersama Pedang."

"Bagaimana?" Montenero mengusik tanya kepada dirinya sendiri.
"Terserah!"
"Bagaimana, Belati?"
"Terserah! Bagaimana dengan kamu, Montenero? Masih sanggup kau mendengar kata-kataku? Ok. Engkau masih bisa bekerja dengan cepat menanam ketiga mayat itu baik-baik. Ambillah cangkul itu. Keduklah tanah segera. Kuburkan mereka senyaman mungkin. Ah, bulan yang sebentar lagi bakalan angslup itu juga pasti merestui dan memandangimu dengan rasa puas. Barangkali, ia bakalan memberi ucapan selamat kepadamu. Kenapa engkau mesti terjebak pada rasa ragu? Ayo, aku senantiasa berada di belakangmu!"

Aih, ayam telah berkokok bersahutan. Meskipun ayam baru berkokok, keadaan di sekitar tempat pembantaian itu sudah cerah. Udara meruapkan kesegaran. Montenero terlambat. Ia belumlah membuat perhitungan-perhitungan untuk bergegas menyuruh Belati agar mau menikamkan diri ke dada Montenero yang kini telah disesaki gebalau bingung, ketololan, amarah, dan entah apa lagi, juga entah ditujukan buat siapa lagi. Montenero betul-betul lunglai, lenyap keberanian, tercipta goresan sejarah yang entah baru entah tidak. ***

Powered By Blogger