Jawaban dari Surga
Tiga tahun hampir berlalu, goresan tinta dalam hidupku selama di sekolah yang katanya megah ini, takkan mungkin terhapuskan walau dengan karang sekeras apapun. Namun, deruan ombak dan desiran pasir yang mengiringiku mencari setitik ilmu dan segudang pengalaman, rupanya belum cukup membuatku mengerti, untuk apa aku di sini, dan mengapa harus seperti ini.
Raungan bel menandakan waktu ujian selesai. Di hari terakhir ini, soal-soal ujian tidak terlalu sulit, yakinku tuk memperoleh hasil maksimal. Hanya saja yang selalu membuatku kesal, orang-orang di sekelilingku yang seperti tak bisa melihat ke depan. Mereka yang selalu menoleh ke belakang, selalu mengulang apa yang telah terselesaikan. Itu semua hanya membuatku muak dan enggan berlama-lama. Kuambil sepeda dan kusandarkannya di tembok, lalu segera sepedaku kuambil dan bergegas kembali ke kos-kosan mendinginkan kepala dan pikiran dari perkataan dan sikap mereka yang selalu membuatku kesal.
***
Dering telepon genggam membangunkanku setelah semalaman aku terlelap.
“Put…hari ini kami pulang, menghabiskan waktu di rumah sebelum pengumuman. Jaga diri baik-baik ya…”.
Ternyata hari ini Daru, Firman, dan Cheri pulang kampung, mereka adalah teman-teman kos yang selalu menemaniku, menghiburku, dan tempat berbagi kegembiraan dan kesedihan. Rupanya hanya tinggal aku dan ibu kos di sini.
Sebelum sang surya tepat di atas kepalaku, kuayunkan langkah menyusuri jalanan sepi, mencari tempat mendinginkan pikiran, sambil mencari bacaan. Saat sendiri seperti ini, aku suka menghabiskan waktu untuk membaca buku, apa saja. Daripada hanya melamun, berkhayal, bermimpi layaknya pungguk merindukan bulan, tanpa tahu ke mana dan di mana imajinasi memenjara. Bagiku waktu bukan untuk disiakan, meski tiada janji, kegiatan, atau aktivitas lain, daripada hanya berpangku tangan, buku bisa menjadi motivatorku. Visualisasi dan semangat yang membawa saat membaca kata demi kata, baris demi baris, dan paragraf demi paragraf, selalu bisa membuatku tidak pernah sendiri. Sayangnya di usia yang katanya sudah dewasa ini, ada satu pertanyaan besar yang belum terjawab hingga kini. Puluhan bahkan ratusan lembar kuhabiskan, belum ada yang dengan sungguh dapat menjawab pertanyaanku. Memang singkat, tidak terlalu panjang, tapi untuk apa sebenarnya aku hidup, apa tujuan-Nya memijakkan kakiku di dunia yang penuh dengan segala kemegahan dan kemewahan, juga keburukan ini. Mungkinkah aku hidup hanya untuk kembali menghadap-Mu, atau hanya sekedar prosedur rumit yang menjadi takdirku. Semua masih menjadi misteri yang harus segera kuberi tanda titik.
Sebuah novel Islami dengan judul Jalan Terindah memikat hatiku, sampulnya yang tebal dengan warna senja, dan sepertinya, isinya juga padat. Membuatku tanpa pikir panjang mengambil dan membayarnya. Sakitnya tungkai akibat jalan jauh tak kurisaukan, hati menggebu, sesegera mungkin harus kubaca novel ini.
Jingga di langit senja mengisyaratkanku untuk membersihkan diri setelah seharian aku dibelai teriknya matahari.
***
Hasil Ujian Nasional diumumkan, kucari namaku dari urutan terbawah, Narendra Putra, urutan 10, Daru yang ada disampingku aku peluk erat, hingga ia meras sulit bernafas. Segera Ruang Tata Usaha kudatangi, setelah segala urusan administrasi selesai, kuambil air wudhu, lalu kukerjakan salat Dhuha, terucap terima kasih dan pujian kepada Allah dalam doaku atas segala kemudahan-Nya. Tak luput dalam benakku, semua orang yang telah memberiku semangat, juga kepada ayah dan bunda yang selalu berjuang dan berdoa demi aku, anak semata wayang mereka. Doa kuakhiri, dapat juga disebut sebagai doa terakhir yang kupanjatkan di mushola penuh berkah itu.
Hari itu juga aku pulang ke rumah, meninggalkan kos-kosanku tanpa mengurangi sedikit pun kenangan di sana . Kehangatan keluarga, kurindu sambutannya, pelukan hangat kerabat sangat kudambakan, ucapan selamat yang dilantunkan tetangga membuatku melayang. Namun, itu semua juga mengharuskanku menerima kenyataan, bahwa diriku harus berpisah dengan sahabat-sahabatku yang selama ini mewarnai setiap detik hidupku dalam menuntut ilmu.
***
Orang tuaku terkejut dengan keputusan yang aku buat. Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah terlebih dahulu. Enggan bagiku melanjutkan jenjang lebih tinggi tanpa mengetahui apa arti hidup ini sebenarnya. Karena setelah kuliah, jangan sampai gelar hanya untuk menghiasi namaku, membuat orang menyanjung dan mengunggulkanku, sebelum kemantapan mempertebal tekadku dengan arti hidup.
Ayah dan Bunda, dengan berat hati mereka melepas kepergianku. Menggunakan sepeda dan dengan bekal secukupnya, kumantapkan diri ini melangkah, tekad yang kuat untuk menatap hari esok, tanpa harus mengungkit yang telah berlalu. Karena itu, hanya akan membuatku terpuruk tanpa kemajuan. Hembusan angin penunjuk jalanku, terik mentari menjadi kawan perjalanan, bintang dan bulan adalah sahabat karibku selama kumeniti jalanan panjang tiada berujung. Berharap, pintu itu akan segera terbuka lebar, dengan cahaya terang.
***
Pagi ini, kuputuskan untuk singgah ke desa terdekat, mungkin ada yang bisa kuperoleh dari sana , karena kata orang, masyarakat desa itu, seperti sapu lidi yang membersihkan halaman rumah kita, selalu saling membantu dan melengkapi. Di sebuah surau kecil, aku merebahkan tubuh, hendak melenyapkan lelah yang menggenggamku erat.
Tiada terhitung seberapa jauh kini aku dari surge duniaku, tapi perjalanan ini sangat berarti bagiku, di dalam pikiran semua terekam sangat jelas. Sepertinya, lembar awal buku besarku telah terisi, membuatku makin ingin berkelana mengarungi hidup.
Harus ada seseorang yang memberiku pelajaran, sepertinya. Kutulis apa yang kurasakan, kupikirkan dan kuharapkan di setiap cercah pikiranku, segalanya menjadi kenangan tak terlupakan dalam pencarian ini.
Rasa lelah telah menyelimuti, tanpa terasa mata pun terpejam. Dalam mimpi, bunda berpesan padaku, tetap berhati-hati, tidak meninggalkan kewajiban lima waktu, dan jangan sembrono. Dekapan penuh hangat terasa begitu nyaman, hingga sesosok cahaya putih dan terang mengisyaratkanku untuk segera membuka mata. Ternyata di hadapanku telah berdiri seorang kakek, sepertinya beliau adalah sesepuh di desa ini. Beliau menanyakan siapa aku dan dari mana asalku. Kujelaskan perlahan mengenai diriku dan misi apa yang sedang kukerjakan saat ini. Kakek itu tersenyum, kemudian mengajakku salat Ashar berjamaah. Entah apa arti senyum itu, yang kutahu bukan hinaan bahkan celaan.
Salam terucap, kakek yang ternyata bernama H. Malik itu, kembali mendekatiku. Beliau menawarkan padaku untuk menghabiskan beberapa malam di tempat tinggalnya. Dengan berbagai pertimbangan, kuterima dengan senang hati tawaran itu.
***
Beberapa hari kulalui bersama Kek Haji, begitu aku memanggilnya, tapi selalu sama apa yang aku kerjakan. Seperti yang orang desa kebanyakan lakukan, membelah kayu, menimba air, ditambah ikut Kakek menjual sayur di pasar. Hanya seperti itu yang beliau perintahkan padaku. Hingga suatu ketika, kubulatkan tekad dan kuberanikan bibir ini untuk menanyakan, mengapa hanya seperti ini yang harus selalu aku lakukan, apa hubungannya dengan misi yang aku emban, apa hubungannya dengan arti hidup? Adakah hubungannya dengan pencarianku? Kek Haji hanya tersenyum, kali ini seperti keheranan dan agak menyindir. “Kau seorang terpelajar bukan,bukankah untuk menyuburkan tanaman bukan hanya dengan dipupuk dan diberi air?”sebuah ungkapan yang sepertinya menjadi jawaban dari apa yang selama ini aku cari, jawaban dari pertanyaan yang bertahun-tahun membelengguku, kini sudah di depan mata, tapi apa artinya?
Keeseokan harinya, saat embun masih membasahi rumput, aku mohon diri pada Kek Haji, sudah terlalu lama aku bersamanya, tapi sepertinya masih juga nihil. Saat itu pula, kutinggalkan desa yang tak sempat kutanya namanya itu.
***
Pada suatu malam yang hening, bahkan bintang pun enggan bersua. Malam itu kuhabiskan di sebuah surau kecil, benar-benar senyap. Semua yang kulakukan bersama Kek Haji kuingat-ingat kembali, apa yang kulakukan dengannya kurenungkan, barang sejengkal kuresapi, mungkin di situ ada pentunjuk. Namun, sama saja, sepertinya hingga rambut dikepalaku rontok pun tak bisa kudapati yang kucari, selama penjelasan akan hal ini kudapat. Sejenak kuingat teman-teman sekolahku, keluargaku, dan teman satu kos. Adakah hubungannya dengan itu semua? Ini terlalu kompleks, bahkan hukum kekekalan energi saja, masih lebih mudah kupelajari. Angin berhembus menusuk tulang, tapi tak kuindahkan. Kantuk menyerang, tetapi belum, tak ingin mata terpejam sebelum pintu cahaya terbuka. Hingga akhirnya, tanpa kusadari aku tertidur membawa misteri dari misteri tanpa jawab pasti.
Sebuah mimpi menghiasi alam tidur, memberi jawaban dari apa yang kucari-cari, tampaknya sebuah perlakuaan, ada hubungannya dengan orang banyak. Tiba-tiba aku terbangun, kubaca istighfar, kuambil air wudhu, segera salat malam kukerjakan. Dalam permohonanku, aku teringat keluargaku, semoga mereka selalu sehat dan dalam perlindungan Allah. Selesai salat, aku merenung. Tampaknya cahaya dewi malam telah merasuki pikiranku dan membawakan sebuah sketsa untuk jawaban atas ungkapan itu.
***
Pagi menjelang, sebelum mentari benar-benar membuka matanya, aku telah selesai salat Subuh. Pagi ini perjalanan kulanjutkan, berjalan tanpa terpaku pada satu arah. Sebuah bukit menyambutku, di baliknya, sebuah kota kecil dengan kehidupan warganya yang serba mewah membuatku terbang tinggi, menggapai bulan, serta ingin meraihnya. Namun, hanya ada kehidupan yang kaku di sana , hidup hanya untuk aku dan aku. Hingga kulihat seorang tua renta yang hendak menyeberang jalan, tiada seorang pun menghiraukannya, remaja di sekeliling kakek tua itu seolah tiada tahu dan pura-pura tak melihat si kakek. Perlahan aku mendekati kakek itu, aku bantu dia menyeberang jalan, sementara para pengendara, memasang acuh pada raut mereka. Apa ini yang namanya hidup? Hanya untuk seroang aku? Hanya untuk menuruti emosi? Hanya berkutat dengan dunianya saja? Apa yang orang-orang itu pikirkan?
Kuambil sepedaku, berniat melanjutkan melihat-lihat kota yang dingin ini, meski dalam oven sekalipun. Aku palingkan wajahku, melihat ke arah kakek tadi, anehnya dia sudah tak terlihat. Hanya jabatan tangannya yang masih teras begitu erat.
***
Perjalananku makin berat, belum juga kudapat apa yang dicari dengan pasti, ranselku makin hari makin bertambah ringan, sementara kayuhan sepeda makin terasa lemah. Sepintas terlihat sebuah ladang jagung yang tidak begitu luas, beruntung, pemiliknya sedang panen. Kuhampiri dia, berniat meminta, barang sedikit, untuk mengganjal perut. Tak kuduga sebelumnya, pemilik ladang itu adalah kakek yang waktu itu kubantu menyeberang jalan. Segera ia mengajakku ke rumahnya. Rupanya,ia tinggal seorang diri, seekor merpati piaraannyalah sebahat sejatinya. Aku disuguhi beberapa macam masakan, terheran aku melihat hidangan itu, semuanya seperti yang bunda hidangkan, ada sayur kangkung, tempe goreng, kerupuk, ditambah segelas air putih, jernih. Semu seperti telah diatur, kakek ini seperti telah tahu aku akan datang. Namun biarlah, tetap saja bersyukur kupanjatkan. Berharap masih bisa aku menemui hal ini.
Selesai makan, kakek itu memberiku bekal dan air minum, kuterima dengan senang hati. Kutinggalkan orang tua itu. Namun, tiba-tiba teringat, siapa nama kakek itu? Saat aku berpaling, betapa jantungku seakan berhenti berdetak, kakek itu telah menghilang juga tempat tinggalnya, yang kulihat hanya hamparan ladang jagung dan seekor merpati putih yang terbang tepat di atasku,entah apa yang terjadi.
***
Kian lelah aku mencari, kian lemah pula raga dari-Mu ini. Namun, tak ada jua yang memberi jawab pasti. Hanya sebuah gambaran samar yang seakan ingin meyakinkanku, dari lerung hatiku. Tetap saja mata ini terpaku ke depan, terus bertahan maju, hingga sebuah kejelasan.
Sebuah bukit di depanku, di sana terdapat sebuah pohon besar yang rimbun, di sampingnya terdapat sebuah masjid, berhiaskan taman ditambah cat hijaunya yang menyejukkan mata. Kuhentikan sejenak perjalanan ini. merebah sambil mengenang apa yang telah aku lalui, mencerna apa yang aku alami, sepintas terngiang segala yang terjadi dalam pencarianku, berpikir, masih beripikir, aku susun semua yang terjadi, kurangkai menjadi sebuah pesan untukku sendiri, sambil berdoa dan memohon, menyebut asma yang begitu indah tiada tara. Tanpa terasa begitu lemah raga ini, tak bisa kugerakkan, mungkin kelelahan. Perlahan, mata ini terpejam, perlahan cahaya menghilang dan gelap menjelang. Perlahan, terlihat cahaya begitu terang dan terasa menghangatkan, aku melayang.
Dewi malam terisak, langit berarak, mendekat, memberi keteduhan, dan bintang-bintang pun hadir di malam sunyi itu, sementara angin berdesir dengan belaian lembutnya menjaga ketentraman jiwa.
Novendhy Eka Andhyka
13899/28/XII IPS 3


0 komentar:
Posting Komentar