Keris dan Harakiri ala Jepang
Judul Buku: Saka
Penulis: Rita Sahara
Cetakan: I, Januari 2006
Penerbit: Grafindo Litera Media
Tebal : 320 hlm
Buku ini menceritakan seorang gadis bernama Rana san yang berteman dengan lelaki pintar, cerdas asal Jepang, Shin Nakahara namanya. Biasa dipanggil Shin. Keduanya adalah mahasiswa. Waktu berganti waktu pertemanan mereka berbuah cinta. Namun percintaan itu berjalan begitu rumit dan pelik. Cukup sulit mengungkapkan perasaan keduanya.
Shinji seorang yang menyukai keris, senjata kuno khas Jawa. Bentuknya yang meliuk-liuk begitu menarik hatinya. Kebetulan Rana san memiliki kenalan pembuat keris. Diskusi tentang senjata Jawa itu cukup mengesankan bagi Shin, hingga ia memiliki keinginan untuk memesan satu keris untuk dibawa pulang ke tanah asalnya, Jepang.
Setelah mendapatkan pesanannya, Shin menghilang entah kemana. Kisah cintanya dengan Rana san juga ikut mengambang. Hingga pada suatu ketika Rana san mendapat surat dari negeri matahari itu, atas nama keluarga Shinji Nakahara, yang memberitahukan bahwa Shin telah meninggal, karena bunuh diri. Mengapa semua itu bisa terjadi dan apa alasan shin melakukan tindakan itu. Semua masih samar-samar.
Si penulis menuangkan ide dalam novel ini tentang perpaduan antara dua budaya, yaitu kebudayaan negeri Jepang dan Indonesia khususnya Jawa. Kebudayaan keduanya juga cukup berbeda dalam hal pola berpikir manusianya dan cara pandang terhadap sesuatu. Dengan ide dasar akan tingginya angka kematian akibat bunuh diri di Jepang novel ini meramu cerita percintaan dengan aspek sosiologi, antropologi dan psikologi.
Buku ini lebih menggambarkan cerita secara deskriptif, detail dan cara pengungkapan latar geografis ceritanya juga menarik, hampir mirip dengan kehidupan nyatanya. Novel ini terkesan realis yang dipadi dengan gaya penulisan populer. Penulis yang berlatarkan seorang peneliti ingin mengungkapkan bahwa karya sastra juga bisa dinilai menarik jika memiliki bukti riset penelitian yang detail, dan kuat. Pilihan diksinya pun juga sederhana, hampir mirip semacam penulisan diary, apa adanya.
Buku ini menarik dibaca karena ada warna unsur kebudayaan yang akan menambah wawasan kita terhadap kebudayaan negeri sakura itu. Pengetahuan akan nilai kehormatan bagi seorang jepang yang rela membunuh dirinya (harakiri) seolah menajdi tradisi bagi bangsanya.
Tapi cukup disayangkan, apa motivasi dibalik cerita bunuh diri dalam novel ini belum juga terungkap, seolah mengambang begitu saja, sama juga kisah percintaannya. Apakah penulis ingin menghadirkan akhir yang mengambang sehingga mampu membuat pembaca terus penasaran dan memutuskan biarlah sang pembaca akan bebas mengintrepetasikan isi ceritanya.



0 komentar:
Posting Komentar