Masih ingat sama tugas PT HORIZON kemarin, Rekan AKSI kelas B 2010?
Kalo ada yang mau dunlud lewat blognya Vendhy, ini aku persilahkan..
;-)...
Horizon A
http://www.4shared.com/document/3qjyXiOg/HorisonA.html
Horizon B
http://www.4shared.com/document/TjH2TYVL/HorisonB.html
Sabtu, 09 Oktober 2010
Diposting oleh
blue_roses_Prod.
di
10/09/2010 06:31:00 AM
0
komentar
Label: Tugas Pengantar Akuntansi
Jumat, 23 April 2010
Singgah di Sirkus
IA melangkah keluar dari bayangan pohon randu. Dan tiba di pintu gerbang sirkus itu. Betapa mustahil keadaan awal ini dapat menjadi yang selainnya. Ia telah mesti ada di situ, pada saat itu. Dari kejauhan dapat didengarnya suara riuh-rendah manusia dan musik. Dilihatnya warna-warna. Seorang penjaga bersandar di samping gardu kayu. Lelaki itu mengamatinya, seperti menyangsikannya. Dari bentuk batok kepalamu, aku tahu kamu penari. Atau detektif. Ambillah ini.Sobekan selembar karcis tiba di tangannya. Atau rahib?Ia tak menjawab, sebab ia bukan sesiapa. Jari-jarinya meraba sejenak kayu terkelupas di pintu gerbang. Ia merasa tempat itu menyimpan semacam rahasia, keajaiban. Begitu banyak pilihan. Ia belum pernah ke sirkus, dan tak tahu mesti memulai dari mana. Ia berjalan menuju kerumunan. Terdengar lagu akordion mekanis dari mesin permainan membaur dengan deru mesin diesel. Ia mengamati tempelan poster pertunjukan dan bendera berkibaran, mendengarkan para peneriak di luar tenda atau bangunan kayu. Ia menuju tenda pesulap. Membayar karcis sambil menatap poster bergambar siluet hitam misterius berselubung awan putih. Ada tulisan nama pesulap, bertebar bintang-bintang di sekitarnya. Kalimat di bawahnya dicetak dalam huruf lebih kecil. Pesulap, hampir penyihir. Setengah jam kemudian terkagum ia keluar dari tenda pesulap. Ia masuk ke tenda sebelahnya yang tampak lebih megah. Sang peneriak di luar tenda mengulangi seruan yang telah didengarnya tadi. Ayo, berduyun-duyunlah! Saksikanlah! Empat badut spektakuler abad ini!Kuartet badut yang ternyata biasa-biasa saja. Ia heran mengapa antrian karcis untuk badut lebih panjang dari pesulap. Ia pergi mengamati komidi putar dan dremolen, masuk ke pertunjukan seorang peniti tali dan penelan api, lalu keluar menuju deretan adu ketangkasan. Ia menghampiri sebuah mesin pencapit. Ia menempelkan mukanya pada kaca kotak capitan, menatap dengan mata besar segala yang bertaburan sedap di dasar. Sesaat ia tergoda. Jika koin dimasukkan, capit besi itu akan terbuka seperti cakar monster jahat, turun menuju serakan cokelat, biskuit, dan permen di dasar. Mungkin beberapa akan terangkat cakar, mungkin jatuh kembali ke dasar. Ia mengurungkan niat, meniupkan nafasnya pada muka kaca, menggambar spiral, dan berlalu. Ia berada di sana bukan untuk hadiah.Ia pergi membeli gulali. Berlama-lama di depan gerai, sambil minum soda ia menonton pembuat gulali memutar benang-benang halus merah muda, hingga menjelma gunungan kapas yang tampak empuk. Ia terpukau. Ia memesan gulali berkali-kali. Setiap kali wajahnya mendekat, matanya mencoba mengikuti gerak untaian gulali. Sia-sia. Setiap kali pula, ia menatap pupil mata pembuat gulali dan tangannya yang bergerak seolah punya mata pada tiap ujung jemari. Ia ragu, mana yang lebih memukau, perempuan pembuat gulali atau gulalinya. Sebab perempuan itu buta.Ia ingin berputar seperti gulali.Dengan lidah kelu hampir mati rasa oleh manis dan bibir dan ujung jari berubah merah, ia menyeruak di antara para pengunjung. Baginya, dari semua tempat di sirkus, yang paling menyenangkan adalah gerai gulali. TAPI ia keliru. Itu disadarinya kemudian. Ketika ia menatap rumah cermin untuk pertama kali. Di tepi lapangan, di sebuah sudut sepi. Di antara terang matahari panas, rumah cermin itu seakan mengumpulkan gelap di dalam dirinya sendiri dengan dingin. Ada beberapa pintu di situ, ia mengelilingi bangunan itu untuk menghitung jumlahnya. Delapan pintu berbeda. Ia masuk lewat salah satu pintu, tiba di sebuah lorong selebar rentang tangan, berdinding cermin di kanan kirinya. Ia membanyak tak berhingga. Lorong itu berbelok bercabangan ke sana-ke mari. Beberapa kali ia menjumpai dirinya ada dalam kubus cermin. Entah ada berapa, semuanya tampak sama. Di sana, empat sisi dinding memantulkan dirinya, kiri kanan depan belakang. Begitu banyak dirinya, ia tak lagi tahu yang mana dirinya sesungguhnya. Bagai berada dalam ulu hati sebuah berlian cemerlang, tersasar dalam labirin sejuta cahaya berpantulan. Ia pun menari. Berputar seperti gulali.Telah senja hari, ketika ia keluar. Kepalanya sedang berputar menatap lampu-lampu yang mulai dinyalakan, ketika sang penjaga menghampirinya dan berkata ia boleh tinggal di sirkus itu, tanpa bilang mengapa. Ia menduga, penjaga itu telah melihatnya menari dalam salah satu kubus rumah kaca. Ia ingat telah berpapasan dengannya pada sebuah kelokan. Ia menengadah ke langit, melihat bulan berbentuk huruf c.Penjaga sirkus memang telah melihatnya menari. Hanya beberapa gerakan, tapi itu telah cukup baginya. Sebab gerak-gerik itu mungkin memang bisa disebut menari.MAKA ia sering mengunjungi rumah cermin. Tak banyak orang yang ke sana. Ia mempelajari skema dan berbagai rutenya. Kadang bereksperimen dengan gerakan musykil dalam salah satu kubus cermin. Kadang ia berputar-putar saja sesukanya, hingga ia pening dan jatuh terhuyung. Jika capek, ia mencoba menghitung jumlah pantulannya pada cermin. Kadang dijumpainya sang penjaga sirkus di salah satu lorongnya. Halo.Hai.Lalu mereka berbelok ke lorong berbeda arah.Sesekali mereka keluar dari pintu yang berbeda, lalu ke kedai kopi tak jauh dari rumah cermin itu. Kedai itu menjual macam-macam minuman yang diurut secara alfabet dari a sampai z pada daftar menunya -- kecuali kopi. Pemiliknya seorang pensiunan penyair yang bercita-cita menjadi saddhu di jalanan Kalkuta, tapi istrinya melempar piring-piring ke arahnya ketika tahu. Di kedai kopi tanpa kopi itu, ia dan si penjaga akan duduk satu-dua jam bercakap tentang menari sebab lelaki itu juga seorang penari, meski jarang tampil. Atau tentang kota, setrika, spontanitas terjadwal, jarak. Atau mengetawai kelucuan orang-orang di sirkus. Lelaki itu selalu punya satu ringkasan cerita dari negeri-negeri jauh. Dan istilah-istilah yang belum pernah didengarnya. Ignoranus, demikian ia mengumpat pengunjung yang membuang sampah sembarangan. Ikonofilia, begitulah ia merujuk pada penonton panggung penari. Siklofrenik, katanya menunjuk dengan dagu pada para pengunjung yang menjerit-jerit histeris pada mobil-mobilan rel yang meluncur turun dengan laju. Lalu ia mesti bertanya, dengan kenaifan yang mungkin menggelikan bagi si penjaga sirkus, bertanya untuk ke sekian kali, apa itu? Sesekali mereka bercakap bersama para badut, pesulap, nona bajang albino, pemilik kedai kopi, penelan api, pemain akrobat, atau pengunjung sirkus yang ikut nimbrung. Sesekali ia mendengarkan beberapa nasihat dari mereka.Ini rahasianya, kata pemilik kedai kopi, bukan soal apa yang kamu lakukan, tapi seberapa pintar kamu pertunjukkan apa yang kamu lakukan. Ini bisnis pertunjukan dengan ideologi agung: kemasan lebih penting daripada produk. Kandungan gizi biskuit, saus tomat, atau shampo tak penting, tapi tunjukkan mimpi -- seperti di tivi. Anak-anak masa depan yang cerdas, keluarga harmonis bersantap malam, pacar bertambah sayang. Imaji, bukan substansi.Pembuat gulali yang janda itu pasti tersinggung mendengar ini, ketua badut menambahkan. Kamu pikir kenapa manusia menemukan gulali? Karena tak ada orang yang mau makan gula murni, itu tak menarik. Tapi penghalusan, pewarnaan, penggelembungan, menjadikannya menarik. Isi gulali itu melulu angin! Kenapa badut harus berpakaian norak bermuka putih berhidung merah begitu? Pakaian kami, bahan-bahan halus bermotif meriah itu, khusus diimpor dari kota. Imaji, teman baruku!Selamat datang di dunia imaji, resolusi tinggi, penjaga sirkus berkata sambil bertopang dagu.Ia diam, gulali yang menarik versi ketua badut itu justru terdengar tak menarik, keluar dari bibirnya yang siang itu tanpa merah gincu. Pentasnya pun bahkan tak lucu.
Diposting oleh
blue_roses_Prod.
di
4/23/2010 07:58:00 AM
0
komentar
Label: Cerita Pendek

