IA melangkah keluar dari bayangan pohon randu. Dan tiba di pintu gerbang sirkus itu. Betapa mustahil keadaan awal ini dapat menjadi yang selainnya. Ia telah mesti ada di situ, pada saat itu. Dari kejauhan dapat didengarnya suara riuh-rendah manusia dan musik. Dilihatnya warna-warna. Seorang penjaga bersandar di samping gardu kayu. Lelaki itu mengamatinya, seperti menyangsikannya. Dari bentuk batok kepalamu, aku tahu kamu penari. Atau detektif. Ambillah ini.Sobekan selembar karcis tiba di tangannya. Atau rahib?Ia tak menjawab, sebab ia bukan sesiapa. Jari-jarinya meraba sejenak kayu terkelupas di pintu gerbang. Ia merasa tempat itu menyimpan semacam rahasia, keajaiban. Begitu banyak pilihan. Ia belum pernah ke sirkus, dan tak tahu mesti memulai dari mana. Ia berjalan menuju kerumunan. Terdengar lagu akordion mekanis dari mesin permainan membaur dengan deru mesin diesel. Ia mengamati tempelan poster pertunjukan dan bendera berkibaran, mendengarkan para peneriak di luar tenda atau bangunan kayu. Ia menuju tenda pesulap. Membayar karcis sambil menatap poster bergambar siluet hitam misterius berselubung awan putih. Ada tulisan nama pesulap, bertebar bintang-bintang di sekitarnya. Kalimat di bawahnya dicetak dalam huruf lebih kecil. Pesulap, hampir penyihir. Setengah jam kemudian terkagum ia keluar dari tenda pesulap. Ia masuk ke tenda sebelahnya yang tampak lebih megah. Sang peneriak di luar tenda mengulangi seruan yang telah didengarnya tadi. Ayo, berduyun-duyunlah! Saksikanlah! Empat badut spektakuler abad ini!Kuartet badut yang ternyata biasa-biasa saja. Ia heran mengapa antrian karcis untuk badut lebih panjang dari pesulap. Ia pergi mengamati komidi putar dan dremolen, masuk ke pertunjukan seorang peniti tali dan penelan api, lalu keluar menuju deretan adu ketangkasan. Ia menghampiri sebuah mesin pencapit. Ia menempelkan mukanya pada kaca kotak capitan, menatap dengan mata besar segala yang bertaburan sedap di dasar. Sesaat ia tergoda. Jika koin dimasukkan, capit besi itu akan terbuka seperti cakar monster jahat, turun menuju serakan cokelat, biskuit, dan permen di dasar. Mungkin beberapa akan terangkat cakar, mungkin jatuh kembali ke dasar. Ia mengurungkan niat, meniupkan nafasnya pada muka kaca, menggambar spiral, dan berlalu. Ia berada di sana bukan untuk hadiah.Ia pergi membeli gulali. Berlama-lama di depan gerai, sambil minum soda ia menonton pembuat gulali memutar benang-benang halus merah muda, hingga menjelma gunungan kapas yang tampak empuk. Ia terpukau. Ia memesan gulali berkali-kali. Setiap kali wajahnya mendekat, matanya mencoba mengikuti gerak untaian gulali. Sia-sia. Setiap kali pula, ia menatap pupil mata pembuat gulali dan tangannya yang bergerak seolah punya mata pada tiap ujung jemari. Ia ragu, mana yang lebih memukau, perempuan pembuat gulali atau gulalinya. Sebab perempuan itu buta.Ia ingin berputar seperti gulali.Dengan lidah kelu hampir mati rasa oleh manis dan bibir dan ujung jari berubah merah, ia menyeruak di antara para pengunjung. Baginya, dari semua tempat di sirkus, yang paling menyenangkan adalah gerai gulali. TAPI ia keliru. Itu disadarinya kemudian. Ketika ia menatap rumah cermin untuk pertama kali. Di tepi lapangan, di sebuah sudut sepi. Di antara terang matahari panas, rumah cermin itu seakan mengumpulkan gelap di dalam dirinya sendiri dengan dingin. Ada beberapa pintu di situ, ia mengelilingi bangunan itu untuk menghitung jumlahnya. Delapan pintu berbeda. Ia masuk lewat salah satu pintu, tiba di sebuah lorong selebar rentang tangan, berdinding cermin di kanan kirinya. Ia membanyak tak berhingga. Lorong itu berbelok bercabangan ke sana-ke mari. Beberapa kali ia menjumpai dirinya ada dalam kubus cermin. Entah ada berapa, semuanya tampak sama. Di sana, empat sisi dinding memantulkan dirinya, kiri kanan depan belakang. Begitu banyak dirinya, ia tak lagi tahu yang mana dirinya sesungguhnya. Bagai berada dalam ulu hati sebuah berlian cemerlang, tersasar dalam labirin sejuta cahaya berpantulan. Ia pun menari. Berputar seperti gulali.Telah senja hari, ketika ia keluar. Kepalanya sedang berputar menatap lampu-lampu yang mulai dinyalakan, ketika sang penjaga menghampirinya dan berkata ia boleh tinggal di sirkus itu, tanpa bilang mengapa. Ia menduga, penjaga itu telah melihatnya menari dalam salah satu kubus rumah kaca. Ia ingat telah berpapasan dengannya pada sebuah kelokan. Ia menengadah ke langit, melihat bulan berbentuk huruf c.Penjaga sirkus memang telah melihatnya menari. Hanya beberapa gerakan, tapi itu telah cukup baginya. Sebab gerak-gerik itu mungkin memang bisa disebut menari.MAKA ia sering mengunjungi rumah cermin. Tak banyak orang yang ke sana. Ia mempelajari skema dan berbagai rutenya. Kadang bereksperimen dengan gerakan musykil dalam salah satu kubus cermin. Kadang ia berputar-putar saja sesukanya, hingga ia pening dan jatuh terhuyung. Jika capek, ia mencoba menghitung jumlah pantulannya pada cermin. Kadang dijumpainya sang penjaga sirkus di salah satu lorongnya. Halo.Hai.Lalu mereka berbelok ke lorong berbeda arah.Sesekali mereka keluar dari pintu yang berbeda, lalu ke kedai kopi tak jauh dari rumah cermin itu. Kedai itu menjual macam-macam minuman yang diurut secara alfabet dari a sampai z pada daftar menunya -- kecuali kopi. Pemiliknya seorang pensiunan penyair yang bercita-cita menjadi saddhu di jalanan Kalkuta, tapi istrinya melempar piring-piring ke arahnya ketika tahu. Di kedai kopi tanpa kopi itu, ia dan si penjaga akan duduk satu-dua jam bercakap tentang menari sebab lelaki itu juga seorang penari, meski jarang tampil. Atau tentang kota, setrika, spontanitas terjadwal, jarak. Atau mengetawai kelucuan orang-orang di sirkus. Lelaki itu selalu punya satu ringkasan cerita dari negeri-negeri jauh. Dan istilah-istilah yang belum pernah didengarnya. Ignoranus, demikian ia mengumpat pengunjung yang membuang sampah sembarangan. Ikonofilia, begitulah ia merujuk pada penonton panggung penari. Siklofrenik, katanya menunjuk dengan dagu pada para pengunjung yang menjerit-jerit histeris pada mobil-mobilan rel yang meluncur turun dengan laju. Lalu ia mesti bertanya, dengan kenaifan yang mungkin menggelikan bagi si penjaga sirkus, bertanya untuk ke sekian kali, apa itu? Sesekali mereka bercakap bersama para badut, pesulap, nona bajang albino, pemilik kedai kopi, penelan api, pemain akrobat, atau pengunjung sirkus yang ikut nimbrung. Sesekali ia mendengarkan beberapa nasihat dari mereka.Ini rahasianya, kata pemilik kedai kopi, bukan soal apa yang kamu lakukan, tapi seberapa pintar kamu pertunjukkan apa yang kamu lakukan. Ini bisnis pertunjukan dengan ideologi agung: kemasan lebih penting daripada produk. Kandungan gizi biskuit, saus tomat, atau shampo tak penting, tapi tunjukkan mimpi -- seperti di tivi. Anak-anak masa depan yang cerdas, keluarga harmonis bersantap malam, pacar bertambah sayang. Imaji, bukan substansi.Pembuat gulali yang janda itu pasti tersinggung mendengar ini, ketua badut menambahkan. Kamu pikir kenapa manusia menemukan gulali? Karena tak ada orang yang mau makan gula murni, itu tak menarik. Tapi penghalusan, pewarnaan, penggelembungan, menjadikannya menarik. Isi gulali itu melulu angin! Kenapa badut harus berpakaian norak bermuka putih berhidung merah begitu? Pakaian kami, bahan-bahan halus bermotif meriah itu, khusus diimpor dari kota. Imaji, teman baruku!Selamat datang di dunia imaji, resolusi tinggi, penjaga sirkus berkata sambil bertopang dagu.Ia diam, gulali yang menarik versi ketua badut itu justru terdengar tak menarik, keluar dari bibirnya yang siang itu tanpa merah gincu. Pentasnya pun bahkan tak lucu.
PANGGUNG pertunjukan penari hanya ada di malam hari. Ia pernah ke sana menonton, betapa megah dan meriah. Ia menyukai semua penari, perempuan dan lelaki. Mestilah sulit untuk bisa menari seperti mereka. Ada yang mengenakan mahkota berbulu panjang di kepala, ada yang seperti balerina angsa, ada yang berjas dan berdasi, atau yang menyerupai burung merak yang ekornya mengambang sempurna. Gemerlap di bawah sorot cahaya, meliuk mengikuti bunyi terompet dan tamborin. Beberapa mereka bisa menari begitu seksi, hingga para lelaki ereksi. Di akhir pertunjukan, konfeti perak turun bertaburan seperti hujan. Bersambung besok malam.Para penonton senang menggolong-golongkan para penari: yang kakinya panjang seperti novel; yang kakinya pendek seperti haiku; yang menyenggol benda-benda jika sedang menari; yang ramah pada cahaya; yang hanya muncul sekali; yang ketiaknya basah beberapa menit setelah menari; yang bergigi tak rapi atau bercelah di tengah. Mengapa mereka lebih mencermati penari daripada tarian? Ia tak memahami mengapa mereka begitu.SIRKUS itu memberinya sebuah nama. Meneriakkan namanya pada pengeras suara. Memasang poster dengan kertas mengilap. Ada siluet gambarnya, sewujud merah yang tak berbentuk. Penari Gasing --Berputar lebih cepat daripada bayangannya.Menjelang malam pertama pertunjukannya, ada yang memberikannya ronce gelang untuk kakinya, yang menimbulkan desing dan gema pada gerakan tertentu. Ada yang menyematkan bunga di rambutnya. Ia naik panggung. Berputar tanpa henti, menyusuri sebuah lingkaran tak kentara, bermula dan berakhir di satu titik entah di mana. Awalnya ia berputar perlahan, di saat-saat itu wajah, pelipis, rambut dan pinggang dan kakinya masih dapat terlihat. Kian cepat, sangat cepat, hingga bayangannya yang jatuh di lantai tak mampu mengikuti geraknya. Dan berhenti tiba-tiba.Ia membuka mata, sejenak bekerjapan oleh silau lampu. Dilihatnya wajah-wajah. Ia ringan meninggalkan panggung, ingin melihat lampu-lampu kecil yang lebih rendah hati. Sejenak ia menimbang, pergi ke rumah cermin, atau mungkin belajar dua-tiga sulapan, belajar menyemburkan api, atau pergi ke tenda yang menyimpan janin makhluk-makhluk aneh yang diawetkan dalam toples-toples besar.Ia pergi ke tenda perempuan pembuat gulali. Dari sana, lampu-lampu dremolen tampak indah, berpijar melintasi sumbu bundar. Perempuan itu menemaninya duduk di bangku kayu. Mereka duduk menatap langit malam di luar tenda tua yang jadi rumahnya.Tarianmu seperti gerak bintang.Gulali.Bintang. Pembuat gulali mengangkat jari, menamai bintang-bintang di atas kepala mereka, menunjuk dengan tepat letaknya. Jarinya menggambar di udara, bercerita ke mana bintang itu akan melintas dan menghilang. Ia takjub.Bajang putih.Apa itu?Sebuah bintang mati, runtuh oleh beratnya sendiri, tak lagi bersinar.BANYAK yang tak bisa dipahami, kita hanya bisa akrab dan terbiasa dengan hal-hal itu, kata perempuan pembuat gulali di suatu pagi, sesaat sebelum ikut menari dengannya di bawah pohon beringin. Ada beberapa orang yang ikut menonton, baru disadarinya di saat akhir tarian. Ia jatuh terhuyung di atas rumput, rebah dengan kaki dan tangan mengembang menatap langit bermatahari terbit dan awan mangambang, tergelak senang, sebab semesta tampak berputar-putar. Orang-orang mulai bubar di sekitarnya. Ia senang mereka telah pergi, sebab ia sering merasa terganggu oleh mereka. Ia jemu dengan pertanyaan mereka yang selalu sama. Tawanya kian tergelak, hingga keluar air mata. Awan-awan itu seperti gulali, katanya kepada perempuan pembuat gulali. Ia melanjutkan bercerita tentang warna-warna langit pagi dan bentuk-bentuk awan, meski tahu perempuan itu sudah tahu, tapi ia terus bercerita, hingga suatu saat perempuan itu menyela bicaranya.Bajang putih. Ia tediam. Matanya mencari-cari pada lengkung langit, membayangkan semacam bintang tak kelihatan, membayangkan nona bajang albino, menelusuri kemiripan yang mungkin. Ia menoleh, mencoba mencari bajang putih di dalam hitam mata perempuan itu.Aku berduka untukmu, anakku.Bajang... putih... Bajang putih... BajangputihbajangputihIa mulai bergumam. Ada kata-kata, yang jika diucapkan terus-menerus, panjang dan lama seperti mantra, akan hilang makna. Aku akan bercerita padamu tentang gema dari jauh itu, katanya sambil bangkit berdiri.Aku akan bercerita padamu tentang lubang hitam, kata perempuan pembuat gulali, dan gema itu bukan dari jauh. Telah kudengar sejak pertama kau datang membeli gulali. SESEKALI ia duduk menemani pembuat gulali berjualan, lalu iseng berkeliling sirkus. Ia bertemu dengan wajah-wajah yang sama di sudut dan belokan. Ia berpapasan dengan para penari. Mereka cukup berjalan dengan lengan dan bahu wangi, beberapa perkataan, atau sekadar duduk di bangku kayu, dan orang-orang akan berkerumun. Tanpa pengeras suara mengumumkan pertunjukan mereka, para pengunjung akan berduyun menonton. Ia membalas lambaian, mencium pipi mereka, dan beranjak pergi.Ia melewati sebuah tenda di mana orang menembak dengan katapel. Hadiah berderet-deret di sebuah rel berputar. Boneka beruang, pistol-pistolan, bantal kecil, bola karet dan banyak lagi. Para pengadu untung mesti menembak hadiah yang ditaksir. Suara si peneriak memenuhi udara di sekitarnya, raihlah hadiah terbesar! Siapa saja bisa menang!Ia melewatinya, tapi si peneriak sekaligus pemilik tenda mencegatnya. Ia diberi hadiah, begitu saja. Bantal bentuk kelereng, dan permen keras warna merah biru ungu sebesar kuku ibu jari. Ia senang, sebab ia suka permen keras, bisa dikunyah hingga hancur, dan bunyinya sering menjengkelkan orang lain. Ia ingin tahu berapa lama bisa menghancurkan satu permen. Permen-permen merah dikunyahnya dalam waktu tiga menit, biru hampir dua menit, ungu semenit. Ia kehabisan permen, sedang bantal itu masih saja mengelereng.MENARILAH untukku, pinta perempuan pembuat gulali suatu malam. Ia tak perlu bercerita padanya, bahwa ia lebih senang menari sendirian di dalam rumah cermin dalam lampu temaram, dan sekali naik panggung sudah cukup baginya. Ia tak tega memberitahunya bagaimana ia kini berduka menatap gulali. Wujud merah muda halus-manis itu memahit, tak lagi memikatnya. Ia pun membatalkan niatnya untuk menangis selama setengah jam, dan bangkit menari dekat pohon beringin besar, sambil perempuan itu duduk bersila di atas rumput seperti menonton. Dukanya terlupa, berganti dengan senyuman. Lalu gelak tawa. Ia tak perlu memahami, bagaimana perempuan itu bisa mengenali duka, dan selalu tahu kapan untuk memintanya menari. Jadi ia tertawa saja.DI sirkus ini ada beberapa duka yang dikenalinya. Ia berduka saat mendengar anak kecil menangis; saat berurusan dengan administrasi kepegawaian; saat menatap perahu kertas yang tertinggal di tengah kolam; saat pijar lampu-lampu dremolen yang berputar di langit; saat wajah seorang lelaki yang berpendar lampu dremolen duduk di seberangnya; saat teriakan bising itu... Ia hanya semakin terbiasa. Kedukaan, jika daftarnya kian memanjang, kian terakrabi, akan menjelma menjadi kejemuan. Dan kejemuan, yang kian biasa, akan berujung menjadi semacam kejemuan terhadap kejemuan. Itu tak baik bagi kesehatannya. MENARILAH untukku, pinta perempuan gulali keesokan hari. Ia menggelengkan kepala. Ia tak perlu bercerita padanya bahwa ia sudah tak kepingin menari. Perempuan itu menggenggam jarinya dan bergumam, mengapa, aku tak lagi bisa menunda dukamu, apalagi menghentikanmu. Aku bukan ibu, bukan pula kekasih yang dapat berlari mengejarmu dan berbisik jangan pergi. Ia melepaskan tangannya. Berlalu dengan menggigit kuku sambil agak sibuk berpikir. Perempuan itu seorang peneropong bintang amatiran, tapi matanya buta, pun tak punya teleskop yang dapat diandalkan, dari mana dia tahu segala macam planet bintang bajang kabut yang ada di langit?Bagi ia, penujum sungguhan adalah perempuan itu, bukan sang penujum di sirkus itu, seorang lelaki tua kurus yang suka memainkan kecapi jika tak sedang menujum.Beberapa kali ia mendengar nujuman si lelaki tua. Para sri panggung akan berkuasa. Neraka ada di bawah telapak kaki ibu, surga ada di dalam benak bapak.Ia tak peduli nujuman. Sebab nujuman, seperti halnya impian, hanyalah kemungkinan, bahkan kemusykilan. Sebab nujuman bukan kedukaan. SEJAK kemarin senja, ia sering menepikan rambutnya ke belakang telinga. Sebab gema itu kian lama kian dekat. Seperti memanggil, memanggil. Malam itu terdengar sangat dekat. Ia duduk menanti di tepi tanah lapang. Menghentakkan sebelah kakinya untuk mendengar desing ronce, sambil menatap panggung penari di kejauhan. Berlampu terlalu terang, lagi pula ajaib, pikirnya. Pernah dikiranya ia akan semata bersuka-ria di sirkus ini, menari seperti gulali seperti gasing sampai mati. Ia melepas gelang kaki. Dengan sekeping mata ronce ia mengguratkan huruf-huruf namanya di atas tanah kering. Ia lalu bangkit. Suara suling menyaring. Dilihatnya siluet seorang lelaki di pagar. Tengah menari. Ia menikmati gerakan-gerakan anehnya, melintaskan dalam benaknya sebaris istilah semacam eksplorasi vektor probabilitas anatomis yang terkalkulasi -- sesuatu yang hanya bisa diucapkan oleh lelaki itu. Lelaki yang sesekali didengarnya bersiul sendirian. Lelaki yang menepi untuknya. Mungkin wajah lelaki itu akan berbayang jika ia sesekali menatap langit. Ia akan selalu bisa menepikan wajah bulan untuknya. Di jalan setapak, dapat dilihatnya wujud gema itu berasal. Sang peniup suling Hamlin, di belakangnya tampak ular-ularan panjang anak-anak. Mereka berjalan dengan melompat menandak menari hampir melayang. Ke mana mereka pergi. Mungkin ke hutan, tebing terjal, sungai bening, samudera jauh -- ke mana saja, ia bisa menari bersama mereka.Ia berjalan lurus menuju ke gerbang sirkus. Jemarinya meraba sejenak kayu yang terkelupas. Ia akhirnya memahami rahasia tempat itu. Sirkus itu memang mestilah ajaib, sebab berada di sebuah negeri yang ajaib.Ia menengadah ke langit. Bulan telah berbentuk huruf o.Angin kencang tiba-tiba bertiup. Meriapkan rambut dan bajunya, meliukkan dedaunan mengibaskan bendera. Ia tak perlu menoleh untuk tahu bahwa angin itu akan menghamburkan goresan namanya di atas tanah. Menjadi debu.Nukila Amal lahir di Ternate, Maluku Utara. Novelnya Cala Ibi terbit tahun lalu. Kini tinggal di Jakarta.
Panduan Turnitin …
10 tahun yang lalu


0 komentar:
Posting Komentar