Sabtu, 13 Maret 2010


Tak Bolehkah Aku Menjadi Kanak Lagi?

Cerpen Nuryana Asmaudi SA Silakan Simak!
Dimuat di Bali Post Silakan Kunjungi Situsnya!05/18/2003 Telah Disimak 202 kali

Tetanggaku Komang Boim, anak laki berusia tujuh tahun, sering kulihat bermain bersama kakak perempuannya, Kadek Ika, dan teman-temannya yang lain. Mereka bermain apa saja dengan asyiknya sepanjang waktu. Kadang Komang Boim bermain sendirian, berlari-lari menarik layang-layang, atau duduk ngelesod bermain debu atau mengendus-endus tanah sambil bicara sendiri, menikmati dunia kanaknya, seakan tak punya beban hidup yang menghimpit sebagaimana orang dewasa.
KARENANYA aku sering jadi tertarik ikut bergabung bermain dengannya. Komang Boim dan kawan-kawannya itu senang kalau akau menemaninya bermain. Kadang mereka malah sengaja mencariku, memanggil-manggil dari luar pintu pagar, ''Om Om, mainan yuk?'' Lalu aku keluar menyambutnya, bermain dengan mereka.
Sebenarnya aku malu main bersama anak-anak itu, apalagi rumah kami di pinggir jalan yang agak besar dimana banyak orang lewat dan melihat kami. Tapi Komang Boim selalu bilang, menghiburku, ''Nggak apa-apa Om, nggak usah malu, kan ada saya?'' sehingga aku pun jadi terbiasa juga. Kukira orang-orang yang lewat dan melihat kami bermain pasti berpikir aku sedang menghibur anak-anak itu.
Aku semakin tidak canggung lagi bermain bersama Komang Boim dan kawan-kawannya setelah teringat sahabatku, Frans Nadjira, seorang sastrawan dan pelukis, pernah mengatakan (menulis) dalam sebuah karya sastranya yang berjudul ''Bercakap-cakap di Bawah Guguran Daun'': ''Sekali waktu seseorang ingin kembali ke masa kanaknya. Bermain..., keluar dari kerepotan hidup sehari-hari.'' Jadi, kupikir, tak perlulah aku malu menjadi kanak-kanak lagi. Biar pun orang-orang yang lewat melihat dan menganggapnya aneh, bahkan mentertawakanku, aku tak perlu menghiraukannya. Masing-masing orang punya keinginan dan urusan sendiri.
Kadang aku malah ingin ikut-ikutan telanjang seperti Komang Boim yang suka telanjang dan ''burung''-nya kontal-kantil, bermain di pinggir jalan di bawah pohonan yang rindang di tepi sungai di dekat rumah kami, sambil melihat orang mandi yang juga telanjang -- para perempuan setengah tua yang susunya bergelantungan seperti buah pepaya. Aku kira aku perlu menyesuaikan diri dengan teman bermain, juga dengan lingkungan dimana aku tinggal. Jadi, sesekali ikutan telanjang di tempat terbuka -- seperti Komang Boim, seperti para perempuan dan lelaki yang mandi bersama dengan telanjang di sungai sebelah rumahku atau di pancuran di pinggir jalan di desa-desa yang pernah kulihat di daerah ini, atau seperti turis-turis bule di pantai-pantai -- tak apalah. Namanya juga jadi kanak-kanak. Kalau ada orang menilaiku aneh, ya tak usahlah dipikirkan. Nyatanya orang-orang telanjang yang kusebutkan tadi toh tak dipersoalkan dan tak dianggap aneh? Jadi buat apa malu telanjang?
***
Tetapi, hari ini Komang Boim dan Kadek Ika sedang tidak ada. Mereka ikut ayahnya pulang kampung ke Karangasem. Padahal aku sedang ingin sekali bermain. Jadi, terpaksalah aku bermain sendirian di halaman rumahku. Aku bermain pasir, sisa dari aku memperbaiki jembatan depan pintu pagar yang jebol tempo hari dan belum semuanya rampung dikerjakan sehingga pasirnya masih banyak dan kutaruh di halaman dekat teras rumah. Aku bermain di atas onggokan pasir yang kubayangkan sebagai bukit atau gunung itu. Aku sedang menyetir mobil (tentu saja nyetir bohong-bohongan dan juga mobil bohong-bohongan) layaknya melakukan atraksi reli gunung. Aku naik turun onggokan pasir yang kubayangkan sebagai gunung itu sambil mulutku tak henti-henti bergumam menirukan suara mobil yang sedang reli ''hngeeee.... hngeeeng... hngeeeeng... cieett... cieett.. hngeeeng...'' berkali-kali sambil naik turun onggokan pasir itu sampai berantakan. Lalu aku susun lagi pasir itu mengonggok menjadi seperti gunung lagi, kemudian aku gunakan untuk reli-relian lagi, aku naik turun berkali sampai berantakan lagi.
Setelah bosan main reli gunung, aku ganti main goa-goaan. Onggokan pasir itu aku susun menjadi lebih bagus lagi, benar-benar seperti seperti gunung, lalu aku buat lubang bundar di bagian bawahnya menjadi seperti goa yang menganga. Goa-goaan itu aku buat seindah mungkin, aku beri semak-semak di sekitarnya biar terkesan seram seperti goa beneran. Aku teringat Goa Hantu dalam film silat di televisi dulu. Lalu aku membayangkan sebuah padepokan perguruan silat tersohor. Aku bayangkan juga diriku menjadi seorang pendekar, guru silat, yang mengajarkan ilmu kanuragan dan bela diri dengan jurus-jurus andalan yang aku kuasai. Dan, karena rumah tempat tinggalku sekarang ini berada di ujung wilayah jalan Bedahulu, maka aku beri saja nama jurus atau ilmu andalanku itu Tendangan Sudut Bedahulu -- disingkat Tensudbeh -- yang sekaligus menjadi nama padepokanku itu.
Baiklah, sekarang saatnya aku peragakan jurus-jurus silatku itu di depan goa. Lihatlah, murid-muridku begitu banyak. Aku ajarkan jurus-jurus dasar bagi murid baru dan aku ajarkan jurus atau ilmu tingkat tinggi bagi murid senior.
''Nah, lihatlah anak-anak, ini namanya Tendangan Kuda Meringkik sebagai jurus pengantar sebelum memasuki jurus andalan Tensudbeh warisan guru sepuhku atau kakek guru kalian, lelaki sakti, guru besar dari Sumba yang pernah bertapa di Pantai Selatan (d kerajaannya Nyai Roro Kidul) yang menemukan dan menguasai semua jurus kuda,'' aku memperagakan, memberi contoh dan menjelaskan kepada murid-muridku. Mereka menirukan semua yang kuperagakan mulai dari gerakan tangan, kaki, tubuh, hingga teriakan, ''Ciaaat! Ciaaat! Ciaaat!''
Masyarakat di sekitar situ jadi tertarik dan berdatangan untuk menonton aku melatih murid-muridku belajar silat. Ya, tak apalah, tak jadi soal. Mereka boleh saja menonton kami latihan. Mereka toh orang baik-baik saja. Tak mungkinlah mereka akan mencuri ilmuku untuk kejahatan. Aku mengenal satu-dua diantara orang-orang itu, yang sering menyapaku berpapasan di jalan atau saat aku lewat di depan rumahnya. Siapa tahu diantara orang-orang itu ada yang bisa menirukan atau bahkan tertarik untuk bergabung ikut berlatih bersama kami belajar silat sekadar untuk bekal menjaga diri.
Lihatlah, orang-orang itu senyum-senyum melihat aku melatih, sepertinya merasa puas dan terhibur, atau mungkin terkagum-kagum, dan boleh jadi juga bangga dan merasa lega di daerahnya ada perguruan silat yang diharapkan bisa ikut menjaga keamanan dari kemungkinan tindak kejahatan yang belakangan ini semakin marak merajalela di mana-mana. Ya, mereka pasti tahu, aku dan murid-muridku di padepokan perguruan silat Tensudbeh ini adalah orang-orang baik juga, atau pendekar golongan putih yang selalu siap membela kebaikan dan membasmi kejahatan.
''Ayo anak-anak, kita teruskan latihan, jangan dulu berhenti. Tak usah malu dilihat orang. Mereka adalah saudara kita sendiri. Mereka orang-orang baik. Bukankah begitu, Bapak-bapak, Ibu-Ibu, Saudara-Saudara?'' kataku. Dan orang-orang itu serempak menjawab, ''Yaaa!'' sambil senyum-senyum nampak puas dan bangga, saling memandang dan saling berbisik. ''Bapak-bapak atau saudara-saudara yang berminat ikut latihan, masuk saja ke mari, tak usah malu. Ayo, ke marilah, kita latihan bersama!'' kataku menawari mereka. Tapi tak ada di antara mereka yang mau masuk. Mereka hanya senyum-senyum saja di luar pagar padepokanku. Mungkin mereka sungkan, atau masih agak takut dan malu. Aku lanjutkan latihan lagi. Sekarang saatnya aku peragakan jurus-jurus atau ilmu tingkat tinggi seperti ilmu loncat tebing, lintas gunung, terbang dari pohon ke pohon, ilmu menghilang di balik gunung, jurus mengendus-ratakan gunung, dan lain-lain. Tapi, latihan terpaksa kuhentikan sejenak karena mataku kemasukan pasir.
Orang-orang yang makin banyak berdatangan menontonku itu pada berdecak kagum sambil sesekali memberi aplaus dengan tepuk tangan. Kadang tepuk tangannya sampai tiga kali -- pada awal, tengah, dan akhir -- untuk satu peragaan jurus. Ya, tak apalah, mereka boleh memberi aplaus buat latihanku, buat padepokan Tensudbeh ini.
***
Nah, itu dia Komang Boim datang! Dia baru saja turun dari mobil bersama kakaknya, ibu dan bapaknya. Aku panggil-panggil dia, kulambaikan tangan padanya, tapi dia tak mau mendekat. Nampaknya dia ragu. Mungkin belum saatnya Komang Boim boleh belajar silat, karena dia memang masih terlalu kecil. Komang Boim hanya memandangku dari kejauhan dengan sorot mata agak aneh. Dia lalu dibisiki ibu dan bapaknya, kemudian digelandang diajak masuk ke rumahnya. Tapi, dia tadi sempat membalas kiss bye-ku dengan tangannya di bibirnya, dengan senyum yang bersahabat. Ya, mungkin Komang Boim perlu istirahat dulu. Nampaknya terlalu lelah dari perjalanan jauh. Tak apalah, sehabis istirahat nanti, atau setidaknya besok, dia pasti keluar dan bisa kuajak main bersama lagi seperti kemarin lusa. Orang-orang yang tadi berkerumun di luar pagar padepokan menonton aku melatih silat, satu persatu mulai beranjak pergi. Ya, hari memang sudah senja, sebentar lagi malam, sudah saatnya mereka pulang. Tapi, aku dengar mereka saling berbisik sambil berjalan pulang dengan sesekali menoleh ke arahku. Ah, mudah-mudahan tak ngrasani buruk aku. Mudah-mudahan mereka baik-baik saja, tidak terganggu oleh latihan dan tidak juga tersinggung oleh sikapku. Mudah-mudahan tidak ada yang buruk diantara kami.
''Kasihan ya, nampaknya dia sudah benar-benar begini!'' kudengar lagi celoteh yang lain sambil menempelkan telunjuk jari dalam posisi miring di keningnya. Ada juga kudengar disebut-sebut pasir yang kubuat mainan itu. Ah, yang benar saja kalian orang! Masak aku baik-baik begini dan sedang sangat bahagia seperti ini kalian bilang kasihan? Apanya yang perlu dikasihani? Justru akulah yang kasihan pada kalian yang tak pernah bisa menikmati kebahagiaan hidup seperti aku. Ah, ada-ada saja kalian. Orang aku cuma mainan di pasir, lagi pula pasir-pasirku sendiri, kenapa di-rasani? Kenapa kalian ribut? Dibilang sudah begini, sudah begitu? Padahal para tukang batu dan kuli bangunan di ujung sebelah sana itu juga pada bermain pasir dan bukan pasirnya sendiri lagi, kenapa tidak kalian rasani? Kenapa hanya aku yang kalian jadikan sasaran?.
Ah, tapi biarlah, buat apa dipikirkan. Mungkin orang-orang itu cuma iri saja padaku. ***

0 komentar:

Powered By Blogger