Sabtu, 13 Maret 2010


Ayah tidak Pengecut

Cerpen Nuryana Asmaudi SA Silakan Simak!
Dimuat di Bali Post Silakan Kunjungi Situsnya!02/09/2003

Tepat pada saat aku hendak mengayunkan tubuh untuk gantung diri, tiba-tiba teringat pesat terakhir ayah saat menjelang ajalnya: ''Jadilah engkau lelaki sejati. Jangan jadi pengecut, berjiwa kerdil dan khianat. Hadapi hidup ini dengan kebesaran jiwa dan keteguhan hati. Jangan cepat menyerah walau engkau hampir kalah. Jangan mudah putus asa meski sudah tak berdaya. Berjanjilah, agar ayah bangga dan tenang meninggalkanmu menghadapi Tuhan.'' Aku mengangguk menahan haru dan sedih. Kugenggam tangan ayah yang sudah dingin, lalu diciumnya tanganku dengan ekspresi rasa puas. POHON yang akan kujadikan tempat untuk gantung diri bergetar diterpa angin malam. Tubuhku serasa dingin. Suara serangga malam dan gemerisik daun beriringan menyulut lengang. Ayah kembali datang dengan roman penuh kasih: ''Hidup ini sebenarnya sederhana. Karenanya tak perlu kita berpusing-pusing meruwetkannya. Kamu tinggal memilih mana yang kamu suka, tentukan nasib dan jalan hidupmu sendiri. Apa yang telah kamu pilih dan kamu yakini jalankan dan perjuangkan.'' ''Tapi, kita sering dipaksa takdir untuk menerima sesuatu yang tidak kita kehendaki, ayah!''''Bohong!'' jawab ayah. ''Untuk apa kamu percaya pada takdir? Takdir itu nonsense. Nasib baik atau buruk ada di tangan kita sendiri. Keberhasilan dan kegagalan, bahagia dan sedih itu manusia yang membuat. Percayakah kamu pada Tuhan?'' tanya ayah kemudian. Aku mengangguk. ''Tuhan itu mengikuti kehendak manusia. Kalau kamu memilih jalan yang baik, Tuhan akan mendukung dan membukakan jalan kebaikan untukmu. Kalau kau pilih jalan yang buruk, Dia tak akan menghalanginya. Tak usahlah kau risaukan takdir, nasib baik, keberuntungan, sial, apes. Energimu akan habis hanya untuk memikirkan itu. Masa hidupmu akan habis sia-sia. Kau menjadi ragu, malas, bergantung, mudah putus asa.'' Ayah sering mencambukku dengan nasihat yang menggugah. Dan ayah membuktikannya dengan contoh perilakunya sendiri yang membuatku kagum dan iri padanya. Tapi aku tak selalu bisa berbuat seperti ayah. Aku sering gagal dan kalah. Aku sering didera (nasib?) sial yang membuatku lelah, pasrah, dan putus asa. *** TALI yang akan kupakai untuk gantung diri masih terkalung di leher. Malam semakin pekat. Serangga-serangga terus bernyanyi diseling suara kepak kelelawar diatas seputar bukit tempat aku hendak gantung diri. Aku masih berdiri di atas bukit dibawah pohon iyu. Kuraba tali di leher, sekadar meyakinkan apakah sudah benar ikatannya atau belum, agar aku tak terlalu merasakan sakit dan gagal. Tiba-tiba bayang ayah datang lagi: ''Kenapa lehermu kau tali, Bajang?'' ''Kami sedang main kambing-kambingan, ayah.''''O, kalau main kambing-kambing tak usahlah kamu tali lehermu. Nanti terluka. Kamu bisa tercekik!'' cegah ayah sambil melepas tali di leherku. ''Bayangkan saja kamu jadi kambing. Berjalan merangkak. Pura-pura makan rumput.''''Tak boleh sungguhan makan rumput, ayah?''''Ya. Cuma pura-pura saja. Jangan benar-benar ditelan. Rumput bukan makanan kita.'' Kami melanjutkan main kambing-kambingan setelah ayah masuk. Aku, Mona, dan Narti asyik merumput di kebun halaman. Ayah kembali keluar setelah mendengar kami ribut-ribut, ''Ada apa Bajang? Kenapa Narti ngambek?'' tanya ayah, lalu mendekati Narti yang cemberut di bawah pohon jambu. ''Kenapa Narti? Kamu diapakan Bajang?''''Bajang jahat. Narti tak mau main kambing-kambingan lagi!'' kata Narti.''Narti ditunggangi Bajang!'' lapor Mona.''Lho, jangan nakal Bajang. Kamu tak boleh menunggangi Narti!'' kata ayah kemudian.''Ah, Narti saja yang cengeng,'' aku membela diri, ''Kita kan cuma main kambing-kambingan. Kemarin Bajang lihat kambing Pak Sunar menunggangi temannya, tapi temannya tidak ngambek!'' *** AYAH orang bijak. Dia selalu memperlakukan anaknya dengan penuh kasih sayang. ayah jarang marah dan tak pernah membentak. Kalau pun aku nakal dan bikin jengkel, dia tak pernah menghardikku, apalagi memukul. Dia hanya menasihatiku dengan pengertian. Ayah tak pernah menyakiti anak dan istri dengan tangannya. ''Istri dan anak adalah amanat. Kita punya kewajiban untuk menjaganya,'' kata ayah suatu hari menasihati Om Ogi sehabis memukul istrinya. ''Hanya laki-laki kerdil dan pengecut yang suka main tangan pada istri dan anaknya.'' Ayah juga berjiwa ksatria dan tidak munafik. Mau mengakui kekurangan dan kelemahan dirinya, bahkan tidak malu membeberkan aibnya pada orang lain dengan tanpa beban dan berpura-pura suci. Terhadap keluarga sendiri juga demikian. Dalam kaitan hubungan yang sangat pribadi dengan ibu, misalnya, ayah terang- terangan mengaku sering ''jajan'' ke tempat pelacuran. Ibu tidak marah dan memakluminya. Bahkan kadang ibu malah menyuruhnya pergi ''jajan'' kalau pada suatu saat tertentu ibu tak bisa memberi kepuasan pelayanan pada ayah. ''Sudah, sana ke langganan ayah saja. Aku capek. Terasa hambar kan?'' kata ibu sambil membekali ayah uang. Usia ibu memang lebih tua dari ayah. Ibu sibuk kerja jualan dan tak sempat dandan. Sementara ayah semangat mudanya masih membara dan punya kelebihan gairah seks yang tak sepenuhnya bisa terlayani dan bikin ibu kewalahan. Ibu memahaminya. ''Yang penting ayah bisa menjaga kesehatan!'' kata ibu. Suatu hari aku pernah menegur ayah karena terlalu sering meninggalkan ibu untuk ''jajan'' (dengan uang ibu) setelah tak terpuaskan oleh pelayanan ibu. Aku kasihan pada ibu, meski ibu sendiri merelakan, siapa tahu sebenarnya hatinya hancur. Tapi ayah tidak marah. Dia hanya meluruskan cara pandangku terhadap pelacur yang dinilainya berlebihan. ''Kamu pikir pelacur itu semuanya perempuan kotor dan busuk? Salah besar kalau kamu berpikir seperti itu. Dosa besar orang yang melecehkan pelacur!'' kata ayah. Menurut dia para pelacur adalah perempuan ''istimewa'' yang punya keberanian untuk memperjuangkan hidup (dan berani menanggung risiko memilih atau terpilih jadi tumbal kehidupan) pada sisi dunia yang buram, demi kelangsungan peradaban manusia dan sejarah jagadraya ini. Ya, ayah memang punya pandangan dan idealisme sendiri tentang pelacur. Aku mengaguminya, lepas dari benar atau salah. Keteguhan hati pada prinsip hidup yang telah dia pilih dan dia jalani menunjukkan ayah adalah seorang laki-laki yang punya sikap, tidak munafik, dan tidak pengecut. Ayah mengakui dirinya laki-laki sundal, suami yang sontoloyo, dan ayah yang tidak bisa diteladani anak. Tetapi dia arif dan tidak picik. Dia menghargai prinsip, pilihan hidup, dan hak azasi orang. Sikap itu ditunjukkan pada siapapun, termasuk pada istri dan anaknya. Suatu ketika aku memergoki (dan ayah juga memergoki aku) di tempat pelacuran. Ayah tidak kaget dan tidak marah. Dia hanya tanya: ''Ngapain kamu di sini?'' ''Ngapain ayah juga di sini?''''Lho, ayah kan laki-laki!''''Saya juga laki-laki, ayah!''Ayah tertawa, menepuk bahuku. ''Bagus, ternyata kau memang anak ayah. Kita tak perlu munafik.'' Aku diajaknya duduk di sebuah bangku. ''Kamu sudah?''''Ayah sudah?''''Ha... ha... ha... kamu makin cerdas saja Bajang. Kamu benar-benar anak ayah,'' katanya sambil mencabut sebatang rokok dan menyulutnya, menghisapnya, menyodorkan yang bungkusan dan koreknya padaku. Lalu, ''Ayah baru saja datang. Kamu juga baru datang?'' Aku mengangguk, mengembalikan rokok dan korek padanya. ''Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo cepat sana!'' perintah ayah. Aku tidak enak kalau harus beranjak mendahului ayah. Ayah mengerti. Dia segera bangkit, melangkah meninggalkan aku, berjalan ke lorong timur. Aku ke barat dan segera memutar ke lorong lain menuju kamar langgananku. Setelah memutar-mutar, untuk menjaga kemungkinan terlihat ayah (tak enak kalau saling mengetahui langganan masing-masing), aku segera mendapati kamar langgananku. Tapi, betapa aku kaget kepergok ayah lagi di kamar yang sama. Ayah tertawa. Aku juga tertawa. Sejak itu, aku dan ayah sering diskusi tentang pelacur. Kami jadi lebih bersikap seperti seorang sahabat, nyaris tak seperti ayah dan anak. Ayah memang fair dan santai. Tak perlu ada lagi rahasia diantara kami. Dari persahabatan itu aku mendapat banyak pelajaran dari ayah yang membuatku jadi semakin kecil di hadapan ayah dan semakin bangga dengannya. Kembali ke soal pelacuran tadi, misalnya, ayah sangat selektif dan tidak ngawur memilih pelacur. Dia tidak sekadar berhajat ''jajan'', tetapi juga punya niatan menolong atau membantu pelacur yang benar-benar bekerja untuk menghidupi keluarganya yang miskin, orang tua, atau bahkan mencari nafkah untuk anak tercintanya yang ditinggal pergi sang ayah. Ayah ingin mengangkat harkat para pelacur dengan kemampuan dan caranya sendiri sebisa-bisa yang dia lakukan. Belakangan kemudian (setelah ayah meninggal), aku mendapat cerita dari teman seprofesi ibu, bahwa ibu adalah salah seorang diantaranya yang diselamatkan ayah dengan dinikahinya ketika ibu hamil di tempat kerja. Dan aku adalah anak yang lahir dari benih lelaki yang tidak jelas yang kemudian jadi anak resmi ayah. Aku bangga punya ayah seperti ayah. Tapi aku tak pernah bisa menjadi laki-laki seperti dia yang bisa melakoni hidup sebagai amanat yang dia taklukkan dengan kemenangan. Aku selalu didera derita dan kekalahan yang menyakitkan. Bagiku hidup adalah derita (pergulatan?) tak berkesudahan, selebihnya misteri. Aku selalu gagal, lemah, lembek, tak punya jati diri dan ketegaran hidup seperti ayah. Bahkan hanya untuk melamar seorang pelacur untuk kuperistri, seperti yang pernah dilakukan ayah, pun aku ditolak. Jadi, buat apa mempertahankan hidup (yang katanya amanat) yang tak lagi berarti ini? Buat apa menambah beban derita dan mengotori dunia dengan diri ini yang tak berguna? *** SEEKOR biawak mendadak melintas. Aku terperanjat, nyaris meloncat. Bulan menyembul di langit timur. Kelelawar kian riuh beterbangan-berkepakan menyayat malam, menggertap lengang. Gonggong anjing sayup-sayup bersahutan di kejauhan. Tali yang membentang dari dahan pohon itu masih mencangklong di leherku. Tapi ayah serasa terus di dekatku: menjadi angin, menjadi pohon-dedaunan, menjadi serangga malam, menjadi kelelawar, menjadi bulan, menjadi malam, mengawasiku, menungguiku, menjagaku, menemani bercakap, merenungi sunyi-senyap, menerangi malam, mengusung beban dunia yang sarat dan menghimpit.***Denpasar, 19 Juli 2002* Terkenang (dan terimakasih untuk) rekan WS.

0 komentar:

Powered By Blogger