Jumat, 23 April 2010

 Maaf Anakku?

Dear : Tiara

Anaku Tercinta
Sayang?? papa dan mama udah berangkat, kami tidak tega membangunkanmu papa mungkin sekitar 11 hari di Bali, mama 2 minggu di Surabaya. Jaga diri baik-baik ya, sayang??..
Mama dan papamu
Tersayang
" Gini lagi, " ucap Tiara dengan mimik muka sedih, sambil meletakkan kembali kertas yang berisikan pesan dari orang tuanya ke meja makan.
Bi Jum, yang sedang menuang susu di dapur hanya geleng-geleng kepala saja. " Ngapain sih bilang-bilang Anakku tercinta segala,?, ??Kata tiara dengan intonasi ketus.
??Non?.. kok ngomongnya begitu?"
??Bik ?.udah berapa kali papa dan mama pergi kayak gini, kalau emang mereka, cinta, sayang dan peduli ama aku, kenapa, kenapa mereka ninggalin aku kayak gini? ??
??Merereka kan??"
??Iya ! Emang ! Mereka hanya mengejar materi. Buat apa bik, materi berlimpah, tapi kasih sayang miskin? Bik?.. seharusnya mereka bisa dong ngertiin aku. Aku kesepian. Aku ga? butuh limpahan kekayaan. Aku butuh kasih sayang dan kepedulian," ucap Tiara dengan sedikit berteriak.
Yup! Begitulah kehidupan Tiara.
Nama lengkapnya Mutiara Indah Pamungkas, kedua orang tuanya emang sibuk. Dirumah Tiara hanya ditemani oleh Bi? Jum, pembantu yang telah bekerja di rumahnya selama 13 tahun. Kalau Tiara mau, dia bisa hura-hura sama teman-temannya, bisa jalan kemana aja. Tapi tiara ga? gitu, dia malah mendambakan kehidupan yang penuh cinta, meskipun di kelilingi oleh lautan harta yang bisa membuatnya bahagia?..
??Ra?. Muka kamu kok pucat ? Kamu sakit? " tanya Sesil, sahabat kental Tiara.
?? En?.ga?.papa?.kok !"
??Ra?ra?. Ya ampun ! tolong??!!!
Eh?.Sin, tolongi aku dong. Tiara pingsan Nih !"
??Tiara!!!"
Sesil dan Sintha ?membopong? Tiara ke ruang UKS. Sementara teman-teman yang lain melapor ke guru piket, ada yang pingsan.
Sejam kemudian semua udah beres. Bi jum udah datang, namun tiara belum jua sadarkan diri, akhirnya Tiara dilarikan ke RS.
??Non..non ?.! Non sakit apa? tanya Bi Jum, seraya tangannya yang sedikit kasar mengelus lembut rambut kemilau Tiara. ??Yang sabar, ya Non ??" ucap Bi Jum lagi, sambil memandang wajah jelita tiara lekat-lekat.
??Bi??"desis Tiara, matanya belum sepenuhnya terbuka.
?? Alhamdulillah ya..Allah?Nnon!Non sudah sadar?"
??Bi?.Mama dan Papa mana?"
??Tadi Bibi udah telpon, Nyonya dan Tuan sebentar lagi mereka tiba, non."
Tiara hanya menatap kosong ruangan rumah sakit. Pikirannya menerawang.
Andai papa dan mama tahu apa yang sedang aku alami. Bukan sekedar sakit di hati tapi juga karena penyakit yang aku derita leukimia dan kanker darah. Yup ! dua penyakit yang dovonis dokter 2 bulan yang lalu.
Pa?.Ma?.. andai kau ada disetiap hari-hariku??.detik-detik kematian ini seakan tak sabar untuk menjemputku?..
Aku ga? ada semangat hidup lagi??.."
Tiara berkata dalam hati. Butiran air mata satu persatu jatuh membasahi pipinya.
??Non ?..Non kenapa nangis. Yang sabar ya, Non?."
??Bi?..tolong ambilkan diary aku di kamar. Aku taruh di rak-rak meja belajar."
??Sekarang Non??.?"
??Iya bik! Cepat?.." ucap Tiara, dengan suara yang hampir ga? ada.
Bi Jum beranjak dari duduknya, melangkahkan kakinya menuju rumah, mengambil diary Tiara sesuai yang diamanatkan anak majikannya yang bernasib malang.
Setelah menemukan diary Tiara, Bi Jum kembali lagi menuju rumah sakit.
??Untuk apa ya diary ini ? Kok kayaknya penting banget?" tanya Bi Jum, pada dirinya sendiri. Meskipun, dia didera rasa penasaran, namun bi Jum ga? mau membaca isi diary itu. Ia yakin, suatu saat rasa penasaran itu akan terjawab.
Sesampai di rumah sakit, Bi Jum memasuki ruangan tempat tiara dirawat, kamar 117.
Rupanya di sana kedua orang tua Tiara, sudah datang.
??Nyonya, Tuan, baru sampai? ?? tanya Bi Jum, sambil menutup pintu kamar dan melangkahkan kaki menuju keluarga majikannya.
??Iya Bi??."Jawab Papa dan Mama Tiara.
??Non??.ini diarynya:" Bi Jum menyerahkan diary berwarna Pink, dengan bungkusan dan ukiran yang selaras kepada tiara.
??Makasih ya, Bi?." Ucap Tiara dengan suara lirih.
??Ma?..Pa??ini ada curahan hati Tiara?..Semua tertulis disini. Semua yang ada diperasaan ini. Tiara tuang disini di diary ini. Semua kesedihan, kehampaan tertulis semua disini. Pa??Ma?.
Bi Jum??maafin Tiara kalau Tiara. Kalau Tiara ada salah. Doain Tiara, semoga Tiara masuk surga, dan berbahagia di sana," ucap Tiara.
Ia merintih menahan sakit, dan?.
??Tiara! Tiara !" Pekik Mama "Tiara..."
Saat mengetahui anak tunggalnya telah tiada. Pergi untuk selamanya, sementara Papanya hanya membisu, bibirnya bergetar, matanya memerah, menahan sedih yang teramat .Sedangkan Bi Jum berlari memanggil dokter, diiringi oleh isakan tangisnya.
??Dok?..dok?"
??Ada apa, Bi?."
??Dok?.Ti?.ara??..Tiara??
Dokter dan Bi Jum menuju kamar tempat Tiara dirawat. Dokter tidak kuasa berbuat apa pun lagi. Semuanya kehendak Tuhan.
Seminggu kemudiaan, keadaan sudah berangsur-angsur tenang. Papa Mamanya, sedikit-demi sedikit, sudah mulai ikhlas melepas kepergian anak tersayangnya.
Papa dan Mamanya merasa bersalah. Sesekali air mata menetes lagi dari mata orang tuanya. Juga Bi Jum, yang tidak menyangka kalau akan berakhir begini.
Dari curahan hatii Tiara yang tertuang di diary anaknya, kedua orang tua Tiara jadi sadar, akan kekeliruan yang selama ini mereka kerjakan. Mereka berpikiir, dengan uang, Tiara akan bahagia. Dan itu terbukti salah.
??Tiara sayang? Maafkan kami?Maaf anakku?kami menyesal atas semua. Maaf Anakku?"

0 komentar:

Powered By Blogger