Bukanlah jarak yang memisahkan, tp kita semua tahu akan perasaan bagaimana rasanya kehilangan...
Semalam aku bertemu dangan sahabat karibku. Sengaja aku mengunjunginya setelah hampir setahun lamanya tidak bertemu. Tapi tahukah anda, rumah dan tempat kerja sahabatku ini hanya berkisar 5 km dari kediamanku. Jika menggunakan kendaraan mungkin hanya butuh waktu lima sampai sepuluh menit untuk tiba di rumahnya. Nomor telepon dan HP-nya juga lengkap di phone book ku. Tapi anehnya, mengapa butuh waktu setahun lamanya untuk bisa bersua? Yah, banyak alasan untuk menemukan pembenarannya. Kesibukan yang sangat padatlah. Kesempatan yang tidak adalah. Atau alasan klise andalan kita semua, lupa.
Sahabat,
Bukanlah jarak yang memisahkan persahabatan kita, tapi rentang perhatian yang memang sudah semakin pudar. Betapa banyak orang yang pernah menyandang status sahabat sejati kita, lalu hilang begitu saja dalam rekaman kehidupan kita. Orbit aktivitas yang memang tidak pernah bertemu, perlahan tapi pasti telah menghapus namanya dalam memori kita. Padahal boleh jadi sebagian diantara mereka adalah orang-orang yang pernah menciptakan stasiun-stasiun kenangan penuh makna ketika masih bersamanya.
Sahabat,
Sebagian besar dari kita memang tak pernah sengaja untuk melupakan mereka. Tetapi kehidupan tak pernah mau tahu itu. Penggalan-penggalan sejarah hidup kita pada akhirnya akan diceritakan oleh mereka. Dan cukuplah kualitas persahabatan itu kita itu yang mengikat hati dan pikiran mereka untuk menceritakan kembali sejarah kita kepada manusia. Buram dan indahnya, tergantung lensa mereka. Dan warna lensa itu terbentuk dari akumulasi pengalaman panjang mereka bersama kita, bahkan hingga kita telah jauh dari kehidupan mereka…
Kelihatannya memang sederhana, “ah… kan cuma satu orang…”. Bukan pada jumlah orangnya saya kira, tapi pada cara kita mengapresiasi nilai persahabatan dalam ruang hidup yang dinamis dan terus bergerak ini. Dan justeru persahabatan sejati itu sebagian besarnya lahir dari situasi-situasi yang begitu rumit untuk dikelola tetapi menemukan bentuk apresiasinya disaat yang sama.
Sahabat,
betapa sering kita lalai akan kehadiran sesuatu ataupun seseorang dalam hidup kita. Sesuatu yang keberadaannya tak terasa, hingga suatu saat ia pun menghilang. Dan setelah kita kehilangan itulah keberartiannya menemukan bentuk, membangunkan kesadaran tentang betapa pentingnya ia.
Kita diingatkan tentang hakikat waktu dan kualitas hidup. Sebuah pelajaran indah betapa menit demi menit yang kita lalui dalam hidup ini seharusnya menjadi stasiun-stasiun kenangan yang tak terlupakan. Meletakkan prasasti-prasati kebahagian dalam setiap hari-hari yang kita lalui. Menciptakan amal-amal raksasa untuk memenuhi timbangan kebajikan kita kelak di hari perhitungan. Menciptkan sejarah tentang kumpulan kebaikan-kebaikan atas manusia, sehingga cerita tentang hidup kita di dunia nantinya adalah cerita tentang kebajikan, cinta, keberanian, dan kepahlawanan…
Sahabat,
Jagalah waktu kita... Ciumlah kening anak kita setiap pagi selagi sempat. Genggamlah tangan istri kita setiap hari dan ucapkan I Love You selagi bisa. Rengkuhlah kedua kaki orang tua kita dan memohon maaf atas segala dosa kepadanya selagi mampu.
Sahabat,
Jangan remehkan kualitas persahabAtan kita. Sebab roda hidup terkadang menuntun jalan takdir kita untuk bertemu kembali dengan orang-orang dan sahabat-sahabat yang sama dalam situasi yang berbeda. Maka menyesallah mereka yang acuh dengan kualitas persahabatannya, lalu suatu ketika dia begitu membutuhkan alasan persahabtan itu untuk kesuksesan hidupnya. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi yang perlu kita tahu, bahwa menjaga kualitas persahabatn itu adalah kunci-kunci kesuksesan di masa yang akan datang…
Panduan Turnitin …
10 tahun yang lalu


0 komentar:
Posting Komentar